Peradaban vs Kebiadaban dalam Melawan Terorisme

0
167
Peradaban vs Kebiadaban dalam Melawan Terorisme
Peradaban vs Kebiadaban dalam Melawan Terorisme

Serangan teror silih bertukar, di beberapa belahan dunia. Kita sungguh jengkel dengan kondisi ini. Teroris memakai semua langkah yang mungkin saja dikerjakan untuk membunuh orang. Mereka tidak terbatas memakai senjata konvensional. Yang bukanlah senjata juga dapat jadi senjata pembunuh di tangan mereka. Satu truk yang umum melayani kebutuhan kesejahteraan manusia, beralih jadi senjata pembunuh yang mengerikan.

Dunia seolah jadi tidak berdaya. Ya, kita memanglah kewalahan. Kita dapat mendeteksi senjata serta bom. Namun, bagaimana membedakan satu truk itu truk teror atau bukan? Tidak dapat.

Kenapa kita tampak seperti tidak berdaya? Karna kita ini beradab. Kita berprasangka baik, kalau manusia itu miliki kemanusiaan. Kita tidak mengira ada yang demikian tega. Sudah pasti kita belajar dari beragam masalah teror yang pernah ada, serta buka diri pada beragam peluang. Namun tetaplah saja, yang berlangsung saat ini agak jauh diluar perkiraan yang sampai kini telah di buat.

Kita semuanya hidup dalam wadah negara, berdaulat serta beradab. Kita bangun kehidupan, kesejahteraan, kasih sayang, serta perdamaian. Kita bangun, bukanlah menghancurkan. Kita menghidupkan, bukanlah membunuh. Kita sharing, bukanlah kuasai. Kita beradab. Teroris tidak sekian. Mereka cuma menginginkan mengakibatkan kerusakan, menghancurkan, membunuh, serta kuasai.

Kita miliki seperangkat ketentuan yang menghormati manusia. Bahkan juga pada orang jahat meskipun, kemanusiaannya tetaplah kita hormati. Kita mengharapkan, sesudah kita hukum, mereka bakal kembali jadi manusia yang benar. Jadi kita tidak memperlakukan mereka sewenang-wenang.

Oleh karena itu kita seperti tengah kalah melawan beberapa teroris itu. Mengapa demikian? Karna kita bertarung dengan ketentuan yang tidak seimbang. Kita tidak bisa melukai orang sipil, mereka malah menginginkan melukai orang sipil sebanyak-banyaknya. Kita menginginkan memanusiakan, mereka malah menginginkan menyingkirkan kemanusiaan. Kita menginginkan bangun, mereka malah menginginkan mengakibatkan kerusakan.

Sudah pasti kita tidak bisa kalah. Menangisi kekalahan sembari mengeluh masalah kecurangan tidaklah jalan keluar. Kita mesti mencari jalan keluar. Dalam soal Indonesia, hukum kita malah tengah kedodoran hadapi terorisme. Polisi seperti diikat satu kakinya oleh beragam dalil hak azasi manusia yang tidak terang teknisnya. Itu masih tetap ditambah lagi dengan celaan beberapa orang yg tidak dapat memisahkan pada Islam serta terorisme.

Undang-undang Anti Terorisme mesti selekasnya dituntaskan. Bukanlah sebatas jadi, namun ia mesti dapat jadi dasar yang meyakinkan kalau aparat negara dapat bekerja membuat perlindungan orang-orang. Tanpa ada itu, aparat kita bakal bekerja dibawah ancaman salah prosedur, serta tuduhan tidak mematuhi hak asasi manusia.

Disamping itu, beberapa orang Islam mesti di beri tahu masalah ketidaksamaan Islam serta terorisme. Polisi kita tidak tengah memburu serta memusuhi beberapa orang Islam. Beberapa besar dari polisi kita itu malah muslim. Mereka tengah bekerja membuat perlindungan kita dari beberapa orang yang biadab tadi. Ingat, teroris itu lain dengan maling. Janganlah mengharapkan polisi melakukan tindakan mengatasi mereka seperti waktu mengatasi maling.

Polisi memerlukan support serta keyakinan kita. Tidaklah perlu ada keraguan masalah agenda lain, seperti menginginkan menyudutkan Islam. Polisi kita muslim, tidak miliki kebutuhan untuk menyudutkan agama mereka sendiri. Yang telah terang menyudutkan Islam yaitu beberapa teroris itu. Jadi, tak ada toleransi pada teroris serta terorisme, walau pelakunya menggunakan atribut serta jargon Islam. Mereka bukanlah Islam. Mereka teroris!

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis serta saat ini jadi seseorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia

loading...

LEAVE A REPLY